Pembelajaran Tari Yogyakarta Alus dengan sebagai Media Pembentukan Karakter dan Maskulin serta Penguatan Kesetaraan Gender dalam Mendukung SDGs di SMKI Yogyakarta
Primary tabs

Kasihan, Yogyakarta – Pembelajaran Tari Yogyakarta Alus dilaksanakan pada Pembelajaran Jurusan Seni Tari di SMK Negeri 1 Kasihan SMKI Yogyakarta dengan melibatkan peserta didik sebagai sasaran utama kegiatan. Seluruh Peserta didik Jurusan Seni Tari wajib menguasai Tari Yogyakarta Alus dengan tidak memandang Gender. Kegiatan ini tidak hanya berfokus pada penguasaan teknik gerak tari, tetapi juga menjadi sarana pembentukan karakter, khususnya kesabaran, Penguasaan Wiraga (ketepatan Kemampuan Gerak), Wirama (kemampuan menyesuaikan Gerak dengan Irama), Wirasa (Kemampuan membawakan Karakter) . pembelajaran Tari Yogyakarta Alus juga melatih ketekunan, pengendalian diri, dan memahami karakter maskulin dalam konteks estetika Tari Klasik Yogyakarta. Selain itu, keterlibatan peserta didik laki-laki dan perempuan dalam proses pembelajaran menunjukkan adanya kesempatan belajar yang tidak dibatasi oleh gender. Hal tersebut sejalan dengan Sustainable Development Goals (SDGs), terutama SDGs Poin 4 tentang Pendidikan Berkualitas dan SDGs Poin 5 tentang Kesetaraan Gender.
Kegiatan pembelajaran bertujuan untuk meningkatkan kemampuan peserta didik dalam memahami, menghafalkan, dan mempraktikkan Ragam gerak dalam Tari Yogyakarta Alus sekaligus membangun karakter melalui proses pembelajaran. Pembelajaran dilakukan melalui pemanasan, pengenalan dan pengulangan ragam gerak, latihan sikap tubuh, koordinasi gerak, serta praktik secara berpasangan. Dalam Tari Yogyakarta Alus, peserta didik dituntut untuk melakukan gerakan secara tegas, terkontrol, tenang, dan sesuai dengan karakter yang dipelajari. Proses tersebut membutuhkan kesabaran karena setiap gerakan harus dilakukan secara berulang hingga peserta didik mampu mencapai ketepatan dan keselarasan. Karakter maskulin dalam konteks tari juga dilatih melalui sikap tubuh yang tegas, mantap, terkendali, dan berwibawa, tanpa menjadikan sifat tersebut sebagai pembatas berdasarkan gender. Guru berperan dalam memberikan arahan, koreksi, serta motivasi selama proses pembelajaran berlangsung.
Hasil dari pembelajaran menunjukkan bahwa Pembelajaran Tari Yogyakarta Alus dapat memberikan manfaat yang lebih luas daripada sekedar keterampilan menari. Latihan secara rutin membantu peserta didik mengembangkan kesabaran, kedisiplinan, konsentrasi, tanggung jawab, dan kemampuan bekerja sama. Pembelajaran bersama juga menciptakan ruang bagi peserta didik laki-laki maupun perempuan untuk memperoleh pengalaman dan kesempatan yang setara dalam mempelajari seni tradisi. Dengan demikian, kegiatan ini berkontribusi terhadap SDGs Poin 4 melalui pengembangan keterampilan dan karakter peserta didik serta SDGs Poin 5 melalui pembelajaran yang memberikan kesempatan tanpa membedakan gender.
Pembelajaran Tari Yogyakarta Alus diharapkan dapat terus dikembangkan sebagai bagian dari pendidikan seni dan pendidikan karakter di SMKI Yogyakarta maupun diluar SMKI Yogyakarta. Pelestarian tari tradisional melalui pembelajaran yang inklusif juga diharapkan mampu menumbuhkan generasi muda yang tidak hanya terampil dalam berkesenian, tetapi juga memiliki kesabaran, kedisiplinan, rasa percaya diri, serta menghargai kesetaraan dalam kehidupan bermasyarakat.
Oleh : Nabila Erista Putri Sholikhah