PROSES KREATIF PENCIPTAAN TARI BERTEMA KERAKYATAN YOGYAKARTA UNTUK ANAK
Primary tabs

Berita Website Program Studi Pendidikan Seni Tari FBSB UNY
Yogyakarta, Juli 2026 — Program Studi Pendidikan Seni Tari, Fakultas Bahasa, Seni, dan Budaya (FBSB), Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) melaksanakan kegiatan Research Group (RG) dengan judul Proses Kreatif Penciptaan Tari Bertema Kerakyatan Yogyakarta Untuk Anak. Kegiatan penelitian dilaksanakan selama dua bulan, yaitu pada juni-juli 2026, melalui Kerjasama dengan kelurajan Jogotirto Berbah Sleman. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya memperkuat pertukaran pengetahuan seni dan budaya sekaligus membangun keberlanjutan kerja sama antara UNY dan pemerintah daerah. Tim pelaksana terdiri atas Prof. Dr. Muhammad Mukti, S.Kar., M.Sn; Dr. Sutiyono, S.Kar., M.Hum; Danang Anikan Fajar Surya Sukro Manis, S.Pd., M.Pd; Sri Wahyuningsih, S.Sn, M.Pd; dibantu oleh anggota mahasiswa antara lain Muhammad Alfian Zimbrand Ardana; Angela Merici Vanesa Gabrela; Bening Bunga Arisna; Firdha Syafa Aulya; Shafira Diva Khalista.
Latar belakang penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk menciptakan karya tari yang memuat tari kerakyatan daerah yogyakarta yang tetap memperhatikan kebutuhan anak, perkembangan psikologi anak. Seni kerakyatan yang berkembang dilapangan saat ini kebanyakan memiliki tujuan sesuai dengan perkembangannya dimmasalalu yani sebagai sarana syiar agama, seruan perjuangan di era pra dan paska kemerdekaan, serta penggambaran pergaulan mudamudi pada masa itu. Poin-poin tersebut dapat dirasakan dalam pengembangan geraknya, serta lirik yang digunakan sehingga tarian tersebut dirasa kurang pantas atau kurang nyaman jika dibawakan oleh anak-anak. Sehingga penelitian ini bertujuan untuk mengkonversi karya tari kerakyatan tersebut tanpa meniggalkan esensi yang sudah ada tetapi diselaraskan dengan kebutuhan peserta didik.
Bertolak dari hal tersebut penelitian ini ingin mengembangkan karya tari yang memiliki nilai edukatif dalam rangka ikut serta membangun pendidikan dan moral bangsa Indonesia. Dengan penciptaan tari yang berbasis budaya lokal, lingkungan dan alam sehingga anak dapat memahami nilai-nilai dan norma berbasis lokal wisdom yang merupakan ideologi bangsa Indonesia. Karya tari hasil perancangan ini diharapkan dapat diajarkan disetiap daerah di lembaga-lembaga pendidikan formal maupun nonformal pada tingkat sekolah SMP baik negeri maupun swasta. sehingga nilai-nilai tari dapat diapresiasi oleh masyarakat di lingkungan lembaga pendidikan tingkat awal. Adanya model perancangan tari yang berbasis tari kerakyatan Yogyakarta berorientasi pada pendidikan nasional dapat dijadikan sebagai acuan bagi lembaga pendidikan, di dalam mendidikkan ideologi bangsa.
Di samping itu, dapat dijadikan sebagai media pelestarian dan pengembangan budaya Indonesia mulai dari lingkup lokal sampai nasional melalui media seni tari. Visi tari ini adalah sebagai model pendidikan budi pekerti bagi generasi penerus yang berbasis pada budaya lokal. Misi yang diemban adalah mengajarkan tari di level usia SD dan SMP yang dapat dijumpai di Sanggar Anjani Art Production yang sebagian besar siswanya adalah usia SD dan SMP yang tujuannya adalah ingin menciptakan generasi penerus yang berkualitas, yakni cerdas, bijak, berbudi pekerti dalam rangka membangun bangsa Indonesia dengan berdasarkan budaya Pancasila.
Perancangan penciptaan tari anak ini disamping dilatarbelakangi perkembangan tari yang lebih menekankan pada aspek gerak, lagu, dan estetika , aspek kejiwaan (psikologi) terrabaikan. Tari bukan sekedar bergerak, artinya gerak-gerak untuk usia anak hendaknya bukan gerak bebas tanpa ada artinya (makna), demikian pula syair lagu dan jenis musiknya. Di dalam tari ada ceritera, gerak dan music merupakan suatu kesatuan (intergreted) tak terpisahkan dalam wujud yang estetis, yang dapat membantu dalam pembentuk kepribadian luhur, sarana penuang dan mencintai tradisi, berfikir kreatif, dan sebagainya yang pada akhirnya melahirkan generasi yang berkarakter.
Sejalan dengan tugas pokok dosen yang tercantum dalam tridharma perguruan tinggi, yang meliputi pendidikan (pengajaran), penelitian dan pengabdian pada masyarakat, peneliti mencoba mengungkap masalah yang terjadi dalam perkembangan seni kethoprak agar hasilnya nanti dapat menjadi kajian bersama dan disikapi secara bijak agar kesenian kethoprak di masyarakat tetap lestari serta hasil kajian secara objektif maupun esensial dalam studi kasus dan diangkat persoalan yang harus diatasi bersama dalam ranah penyelenggaraan pendidikan terkait pendidikan formal maupun non formal. Kegiatan ini dilatarbelakangi oleh kebutuhan untuk
1. Mengetahui proses kreatif pembuatan karya tari bertema kerakyatan utuk anak SMP yang sesuai dengan perkembangan psikologinya
2. Mengetahui bentuk karya tari bertema kerakyatan utuk anak SMP yang sesuai dengan perkembangan psikologinya
3. Mengetahui Kelayakan karya tari bertema kerakyatan utuk anak SMP yang sesuai dengan perkembangan psikologinya
Secara teoritis penelitian ini diharapkan mampu memberi manfaat teoritis, yakni hasil penelitian proses kreatif penciptaan tari bertema kerakyatan yogyakarta untuk anak dapat memberikan sumbangan pemikiran pada proses kreatif pembuatan karya tari bertema kerakyatan utuk anak SMP yang sesuai dengan perkembangan psikologinya dan mampu membantu mengatasi permasalahan dalam kegiatan pembelajaran tari di pendidikan formal maupun non formal. Secara praktis, hasil penelitian ini diharapkan mampu dan bermanfaat bagi:
-
- Pengajar tari, di sekolah formal maupun non formal, bahan ajar ini dapat digunakan sebagai acuan dan materi pengaya untuk tari kerakyatan daerah setempat.
- Sekolah yang menjadikan seni tari sebagai mata pelajaran seni budaya, media ini dapat dijadikan sebagai salah satu alternatif materi pembelajaran.
- hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan dalam penelitian tindakan kelas sebagai langkah selanjutnya untuk pengembangan produk lebih lanjut.
- Dinas pendidikan, jika dirasa bahan ajar ini efektif dapat dipatenkan dan diterapkan pada jenjang pendidikan dan diseragamkan.
Hasil Eksplorasi Karya
peneliti membuat karya yang berjudul HARSATAMA ini ke dalam bentuk garap kreasi baru dan tipe non dramatik, dengan pengungkapan ide dari koreografer yang disampaikan lewat gerak, ekspresi dan struktur garap, dengan memperhatikan segala unsur tari untuk menyampaikan pesan kepada penonton.
Proses kreatif penciptaan tari dengan judul HARSATAMA merupakan karya yang diangkat dari tari kerakyatan yang ada di DI Yogyakarta sebagai identitas dan cirikhas daerah. Penciptaan karya tari HARSATAMA adalah sebuah Upaya melalui proses kreatif untuk menyuarakan keresahan yakni gap teori yang terjadi di lapangan, antara lain kurikulum smp apresiasi tari daerah sekitar (tari kerakyatan) yang karakteristiknya mencerminkan tari-tari pra kemerdekaan yang berisi seruang perjuangan, cerita peperangan, tari pergaulan yang sarat lirik sensual dan syiar agama yang kental. Harapannya karya baru ini dapat tetap bernafaskan rasa kerakyatan dengan menghilangkan unsur yang kurang cocok dengan perkembangan psikologi anak melalui metode kreativitas Alma M. Hawkins yang menghasilkan sebuah karya tari kreasi baru bertipe non dramatik. Karya tari ini lebih berfokus pada pengenalan beberapa jenis tari kerakyatan yang dirangkum dalam satu karya. Karya HARSATAMA ini digarap dalam bentuk tari kreasi baru dengan pijakan tradisonal kerakyatan, sesuai dengan kebutuhan lapangan sehingga dapat memberi peluang yang lebih leluasa dalam proses kreativitas
1. Desain koreografi
Merujuk pada peluang garap yang telah diuraikan, selanjutnya koreografi yang dimunculkan bersumber dari gerak-gerak tradisonal kerakyatan yang tumbuh dan berkembang di Daerah Istimewa Yogyakarta. Gerakgerak tersebut distilisasi dan didistorsi, baik secara ruang, waktu dan tenaga. Selain itu, digunakan juga stilasi gerak–gerak keseharian seperti berjalan, berlari, lompatan, dan gerak-gerak yang didapat dari hasil eksplorasi tubuh penari selama proses karya berlangsung. Desain koreografi tersebut dibagi ke dalam tiga bagian dalam karya ini, dimana isi dari tiap bagian, yaitu:
- Bagian Awal:
Pada bagian pertama ini diawali dengan penggambaran tentang penari muda Yogyakarta yang siap menghibur dan diungkapkan melalui kandha. kandha sendiri merupakan cirikhas Jogjakarta yang tidak dimiliki daerah lain. kandha adalah narasi atau penuturan lisan berbentuk sastra Jawa yang dilagukan dengan nada dan intonasi khas oleh seorang pemaos kandha, dengan atau tanpa diiringi tabuhan gamelan (karawitan), untuk mengawali atau mengantar adegan dalam tarian klasik, bedhaya, srimpi, maupun wayang wong, biasanya menjadi pembuka atau awalan pertunjukan untuk memberi Gambaran, sudutpandang atau asal mula cerita tersebut.
- Bagian Tengah:
Bagian ini menggambarkan beberapa tari kerakyatan yang ada di Yogyakarta, antara lain tari srandul dari kota Yogyakarta, Angguk kipas dari Sleman, reog keprajuritan dari Bantul dan Incling dari kulonprogo. Masing-masing tari kerakyatan tersebut memiliki pola dan rasa Gerak masing-masing, lalu diambil esensi Gerak dan dikembangkan menjadi karya yang lebih dinamis. Tidak lupa dinamika Garapan disusun sedemikian rupa agar tidakterkesan monotone dan lebih mudah dinikmati oleh generasi muda.
- Bagian Akhir:
Bagian akhir menggambarkan tentang penggambaran semanngat dan kebersamaan generasi muda yang disimbolkan dengan Gerak rampak dengan tempo yang relative cepat untuk mencapai klimaks Garapan.
2. Desain Musik
Pada karya ini, musik yang digunakan bernafaskan kerakyatan. Nuansa musik yang akan dihadirkan terdiri dari beberapa bagian, yaitu; cirikhas music pengiring tari kerakyatan sesuai daerah masing masing misalnya tari srandul musik pengiringnya bersifat ritmis dengan laras slendro atau pelog. Alat music angguk kipas Kendang / Kendang Batangan, Bedug / Jidor Memberikan hentakan bunyi bas yang kuat dan menjadi ciri khas ritme angguk Rebana / Terbangan (ukuran besar, sedang, dan kecil): Menghasilkan suara dominan bernuansa Islami. Kecrek / Kacer: Menjadi alat perkusi pelengkap untuk memperkaya aksen ketukan. Alat Musik Modern (Tambahan): Pada perkembangannya, beberapa grup juga menambahkan alat musik seperti drum, keyboard, atau saron. Reog keprajuritan enggunakan alat musik ritmis sederhana pengiring suasana perang, dengan ciri khas utama kendang dhodhog, bendhe, serta kenong-kempul dan gong dan incling variasi gamelan laras slendro/pelog atau perpaduan angklung/krumpyung yakni musik bambu khas pedesaan pegunungan (seperti daerah Menoreh) yang digetarkan atau ditabuh untuk membangun suasana riang. dan bendhe (pongjir), alat music tersebut merupakan cirikhas music-musik kerakyatan dan juga menggunakan vocal dengan tembang yang menciri setiap karya kerakyatan tersebut.
Karya ini menghadirkan 4 tari kerakyatan khas Yogyakarta yang diambil dari 3 kabupaten 1 kota yakni tari srandul dari kota Yogyakarta, Angguk kipas dari Sleman,Reog Keprajuritan dari Bantul dan Incling dari Kulon Progo. Susunannya sudah disesuaikan sedemikian rupa untuk membentuk dinamika karya agar tidak terkesan monotone, srandul menjadi urutan pertama karena geraknya cenderung pelan dan ragam geraknya tidak terlalu banyak sehingga banyak melakukan pengulangan. Setelah itu masuk pada ragam tari angguk kipas, walaupun geraknya tidak berjingkrak, cenderung pelan tetapi munculnya permainan kipas menjadi dayatarik tersendiri, jadi tidak membosankan. Setelah itu masuk ke tari reog keprajuritan dengan ciri khas menghentak seperti prajurit yang berlatih baris-berbaris serta beladiri menjadi kontras yang dinamis dalam karya ini setelah itu masuk pada ragam tari incling sebagai penggambaran prajurit berkuda sehingga membuat tempo tarian semakin memuncak. Gerak-gerak tersebut sudah dikembangkan dari sisi ruang, waktu dan tenaga, serta sesekali diberi kejutan-kejutan untuk membangun dinamika gerak, sehingga mendukung suasana yang yang ingin dihadirkan.
Bagian akhir menggambarkan tentang semangat kebersamaan dan gotong royong, hal ini disimbolkan dengan Gerak terarah bersamaan dengan satu orang pemimpin di depan yang mengarahkan barisan belakangnya. Dibuat semakin cepat temponya agar dinamika yang sudah dibangun sedari awal dapat mencapai klimaks. Ditutup dengan tembangan
Paripurna pagelaran punika, Mugi dadiya panglipur pra sedaya lestari ngrembaka
Artinya : Sudah Selesai penampilan dari kami, semoga menjadi hiburan untuk anda (penonton) semua, semoga (seni tradisi) tetap lestari dan semakin berkembang. Ditutup dengan pose semua penari menandakan berakhirnya pertunjukan.
Komentar dan saran umum yang diberikan siswa mengenai materi tari ini adalah sangat baik. Pernyataan tersebut disampaikan melalui jawaban yang diberikan para siswa uji coba lapangan terbatas. Mereka menyatakan bahwa materi pembelajaran yang dikembangkan ini menarik. Kemenarikan materi terdapat pada bagian Gerak serta musiknya. Materi tari ini juga dapat memotivasi siswa untuk belajar tari lebih lanjut. Berdasarkan analisa hasil uji coba lapangan dapat disimpulkan bahwa materi tari Harsatama ini menarik dan sangat layak baik oleh karena itu tidak dilakukan revisi atau pembenahan dalam materi ini.